Penyidik Periksa Adanya Dugaan Kelalaian Pada Kecelakaan di Pakubuwono Spring

 

 

Eskopi.com – Penyidik masih melakukan penyelidikan atas kasus kecelakaan kerja pada proyek pembangunan Apartemen Pakubuwono Spring yang menyebabkan tewasnya tiga orang pekerjanya. Kemungkinan terdapat unsur kelalaian yang patut dipelajari lebih lanjut.

“Kami cek nanti, apakah ada unsur kelalaian di sana (Apartemen Pakubuwono Spring),” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono di kantornya, Jakarta, Rabu (27/12/2017).

Bila terbukti terdapat kelalaian maka Argo mengatakan orang yang harus bertanggung jawab pada kecelakaan tersebut dapat terjerat pasal 359 dan 360 KUHP tentang kelalaian yang membuat korban meninggal serta luka berat dan diancam dengan hukuman lima tahun pidana.

“Makanya pasalnya tentang kelalaian, tapi tetap harus kami lakukan pembuktian di situ,” ungkapnya.

Sampai saat ini polisi sudah melakukan pemeriksaan pada dua saksi mengenai kecelakaan kerja di Apartemen Pakubuwono Spring. Sayangnya, Argo tidak mau mengatakan identitas kedua saksi tersebut.

“Ya saksi yang melihat, mendengar dan mengetahui kejadiannya,” kata Argo.

Uskup Agung: Trump Harusnya Mengikuti Resolusi PBB Terkait Yerusalem

 

 

 

Eskopi.com – Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) dan Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) memprotes klaim Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Negara anggota Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) diminta harus tunduk pada resolusi PBB.

“Yang tergabung dalam PBB, semestinya yang tergabung anggota PBB itu tunduk pada resolusi PBB. Nah yang dilakukan Presiden Trump tidak sesuai dengan resolusi PBB, itu yang pertama,” ungkap Uskup Agung Jakarta Mrg Ignatius Suharyo pada konferensi pers di Gereja Katedral, Jakarta Pusat, Senin (25/12/2017).

PBB telah mengadakan Majelis Umum pada Kamis (21/12) yang menghasilkan sebanyak 128 anggota PBB mendukung adanya resolusi tersebut. Sedangkan AS dengan 8 negara lain melawan resolusi tersebut. Trump tetap dengan keputusan untuk memindahkan kedutaan besar AS di Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem.

“Yang kedua, sebagai warga Katolik kami ikut pada pimpinan kami Paus (Fransiskus) itu eksplisit mengakui Palestina,” katanya.

Ignatius menganggap harusnya yang menyelesaikan permasalahan tersebut adalah kedua pihak yang bersangkutan yakni Israel dan Palestina. Lantaran bagaimanapun lamanya perbincangan tersebut, pada dasarnya Israel dan Palestina yang harus angkat bicara.

“Bukan masalah agama. Seperti ditegaskan, ini masalah kemanusiaan dan masalah politik. Ini bukan masalah baru ini masalah lama. Masa masalah lama mau selesaikan lima menit enam menit. Kan nggak bisa. Pasti akan membutuhkan waktu yang banyak dan biarkanlah berbicara bersama-sama. Sementara negara memberi fasilitas supaya tidak berhenti terus berjalan maju. Seperti itu sikap gereja Katolik,” ungkapnya.

Airlangga Hartarto Tidak Menarik Perwakilan di Pansus Angket KPK

 

 

Eskopi.com – Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto mengungkapkan pihaknya akan mengambil wakilnya di Pansus Hak Angket Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Menurut Airlangga mengatakan pansus mempunyai mekanisme sendiri.

“Ada mekanisme tersendiri, pansus terbentuk dari bagian keputusan paripurna DPR,” ungkap Airlangga di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (20/12/2017).

Menteri Perindustrian itu mengungkapkan sekarang ini yang dapat dilakukan yakni dengan adanya penyelesaian mengenai pansus tersebut.

“Yang dapat dilakukan adalah tentu penyelesaian, kesimpulan Pansus itu segera diselesaikan,” ungkap Airlangga Hartarto.

Sedangkan Busyro Muqoddas bersama perwakilan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), dan perwakilan ICW mengajukan gugatan pencabutan uji materi pada Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 Tentang MPR DPR DPD dan DPRD ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Gugatan tersebut mengenai kehadiran Pansus Angket KPK. Menurut Busyro bahwa dasar dari pencabutan uji materi terhadap Undang-Undang tersebut lantaran Ketua Mahkamah Konstitusi Arief Hidayat mengatakan telah berjumpa dengan Ketua Komisi III DPR.

Dia menduga melakukan lobi-lobi politik supaya dapat dipilih kembali sebagai hakim konstitusi.

“Dengan janji akan menolak permohonan perkara angket terhadap KPK,” kata Busyro Muqoddas di Gedung MK, Jakarta, Kamis 7 Desember 2017.

Kuasa Hukum Novanto Sampaikan Setnov Masih Agak Sakit

 

 

Eskopi.com – Tersangka kasus megakoruspsi e-KTP Setya Novanto mengatakan sakit pada persidangan perdana pada hari Rabu (13/12/2017). Sampai kemarin, Novanto dikabarkan masih sakit.

“Kemarin masih lemas, masih agak sakit. Saya nggak tahu sudah bisa dibawa ke dokter atau belum,” ungkap kuasa hukum Setya Novanto, Maqdir Ismail, di Restoran Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (16/12/2017).

Novanto memang mengatakan sakit pada sidang oerdananya, tetapi dokter mengungkapkan bahwa Novanto dalam keadaan sehat. Kuasa hukum Novanto menyindir mengenai dokter yang melakukan pemeriksaan terhadap Novanto di Pengadilan Tipikor saat sidang perdana.

“Saya punya pengalaman lain mengenai keterangan dokter IDI, makanya saya katakan di persidangan, saya minta untuk diperiksa dari dokter yang lain. Ada satu perkara, keterangan dokter IDI menyimpulkan bahwa orang ini layak disidangkan, dia sehat. Ketika dibawa ke pengadilan ternyata orang ini hanya bisa tiduran di ranjang. Diperiksa oleh doktor dokter IDI dan dokter lain menunjukkan orang ini tidak sehat,” kata Maqdir.

“Saya tidak meragukan, yang sama mau itu ada dokter lain yang memeriksa kemarin, yang kami harapkan dokter RSPAD,” tambahnya.

Tetapi sebenarnya dokter dari RSPAD juga didatangkan pada Rabu (13/12) kemarin tetapi yang datang adalah dokter umum dan mantan ketua DPR RI itu enggan diperiksa olehnya.

Kuasa Hukum Minta Hasil Pemeriksaan Kesehatan Novanto

 

 

 

Eskopi.com – Sebanyak empat dokter telah menegaskan keadaan Setya Novanto dalam keadaan bugar dan dapat menjalani persidangan. Tetapi kuasa hukum Setya Novanto meminta hasil pemeriksaan kesehatan tersebut.

Mulanya, ketua majelis hakim Yanto mengajukan pertanyaan terkait hasil pemeriksaan terhadap keempat dokter secara lisan. Dan empat dokter tersebut mengatakan Setya Novanto dalam keadaan sehat.

“Bisa komunikasi dengan baik? Apabila kita lanjutkan pemeriksaan dalam pembacaan, kira-kira dia kuat?” tanya Yanto pada persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Rabu (13/12/2017).

“Bisa, Yang Mulia. Saya rasa kuat, Yang Mulia,” dokter menjawab.

Hakim Yanto berencana untuk meneruskan persidangan tetapi Firman Wijaya kuasa hukum Setnov mengemukakan pendapat.

“Kalau tadi sudah menanyakan para dokter sudah ada pemeriksaan, kami belum melihat sampai sore ini kami belum melihat hasil yang disampaikan tadi. Karena itu, Yang Mulia, atas dasar itu, kami meminta mendapatkan hak kami menghadirkan dokter yang profesional,” ungkap Firman.

Tetapi Jaksa KPK mengungkapkan dojter yang didatangkan merupakan dokter ahli dari RSCM, bukan dari KPK. Jaksa KPK juga mengatakan dokter yang diharapkan oleh Setya Novanto telah didatangkan tetapi ditolak.

“Selama pemeriksaan di lantai 7, penasihat hukum yang ada di ruangan ini mengikuti juga, dokter yang datang hari ini adalah RSCM, dokter profesional di bidangnya, jadi bukan tidak profesional dan bukan tidak ahlinya,” jelas jaksa KPK.